• Senin, 26 September 2022

Spirit Haji Pembawa Perubahan

- Minggu, 26 Juni 2022 | 19:19 WIB
Islah pangabean
Islah pangabean

Pada abad ke 17 sampai ke 19, orang berhaji digerakkan oleh ruh atau spirit kekuasaan dan keilmuan. Pada masa ini, secara umum, mereka yang ke Tanah Suci terdiri dari golongan penguasa dan agamawan.

Kesultanan Banten tercatat mengirim dua kali rombongan ke Makkah untuk berhaji dan mendapat gelar sultan. Kesultanan Mataram juga mengirim utusan untuk meminta gelar sultan kepada Syarif Makkah dengan jalan berhaji. Para penguasa kala itu memanfaatkan momentum haji untuk menghubungkan kekuasaan mereka dengan kekuasaan dunia Islam.

Baca Juga: Spirit Tahajud - Munajat Hendak Shalat Malam

Penguasa di Nusantara kala itu mau dianggap sebagai wakil imperium Islam yang sangat luas kala itu. Dengan gelar sultan, dianggap telah sah-lah sebagai raja Islam yang dapat restu Syarif Makkah/Turki Usmani.

Golongan kedua yakni ulama atau agamawan. Ulama abad ke 17 yakni Nuruddin Ar-Raniri, Yusuf Al-Makassari, dan Abdurrauf As-Singkili kala itu membangun jaringan keilmuan antara tanah suci dan negeri ini yang kala itu belum bernama Indonesia.

Abad ke-18 pun demikian, Abdussamad Al-Falimbani dan Arsyad Al-Banjari menjadi bukti nyata penyebaran ilmu lewat ibadah haji.

Baca Juga: Pemimpin Umum dan Dua Walikota Makassar Hadiri Pernikahan Mubarak di Ponpes Al Bayan Hidayatullah

Jaringan Ilmu pun berlanjut ke awal abad ke -19. Umar Nawawi Al-Bantani, Saleh Darat, Ahmad Rifai Assamarani sangat berperan. Jamaah asal Indonesia belajar pada ulama Nusantara yang ada di Mekkah. Sepulangnya ke tanah air, mereka pun menyebarkan agama Islam terutama kitab mazhab Syafi'i.

Pada kurun abad ke 19 dan awal abad ke 20, ruh berhaji rakyat Indonesia (Nusantara) menjadi identitas kebangsaan dan anti penjajahan. Pemerintah Hindia Belanda kala itu, sampai-sampai mempersulit ibadah haji.

Tahun 1859, pemerintah Hindia-Belanda mengeluarkan 2 aturan bahwa orang yang mau berhaji harus menunjukkan kemampuan secara ekonomi dan juga harus mengikuti ujian setelah haji.

Halaman:

Editor: Firmansyah Lafiri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Reorientasi Diri Menentukan Niat dan Tujuan Hidup

Senin, 26 September 2022 | 07:21 WIB

Preman dan Manusia Merdeka

Jumat, 23 September 2022 | 05:38 WIB

Pasang Surut Peradaban Islam, Sebuah Keniscayaan

Kamis, 22 September 2022 | 09:09 WIB

Refleksi Kehidupan - Memahami Tanda-tanda

Selasa, 13 September 2022 | 09:57 WIB

Inspirasi - Tahmid Pejuang Subuh

Rabu, 7 September 2022 | 20:37 WIB

Refleksi Kehidupan -- Membangun Hubungan

Rabu, 7 September 2022 | 05:37 WIB

Khazanah Sejarah - Perubahan Sebuah Fatwa dalam Islam

Kamis, 1 September 2022 | 05:38 WIB

Inspirasi - Jadi Hamba Terbaik

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 20:33 WIB

Refleksi Kehidupan -- Merdeka Sejati

Kamis, 18 Agustus 2022 | 05:08 WIB

Inspirasi - Benteng Aqidah

Kamis, 18 Agustus 2022 | 04:59 WIB

Lambe Turah, Haram bagi Pelaku dan Pendengarnya

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 09:27 WIB

Inspirasi - Lahirnya Kampung Quran

Rabu, 10 Agustus 2022 | 08:43 WIB

Inspirasi - Wisuda dan Milad dengan Spirit Hijrah

Rabu, 3 Agustus 2022 | 18:19 WIB

Inspirasi - Halaqah Terbaik Halaqah Subuh

Senin, 1 Agustus 2022 | 10:04 WIB

Terpopuler

X