• Jumat, 9 Desember 2022

Barang Belum Ada, Syariat Islam Bolehkan Transaksi Jual Beli Indent

- Kamis, 20 Januari 2022 | 20:13 WIB
Jual beli indent dibolehkan syariat dan termasuk persoalan muamalah yang banyak dijalankan saat ini
Jual beli indent dibolehkan syariat dan termasuk persoalan muamalah yang banyak dijalankan saat ini

PortalAMANAH.COM -- Seringkali seorang pembeli harus pulang dengan tangan hampa. Pasalnya jenis barang yang ia inginkan tidak ia temukan di penjual. Entah itu karena stocknya habis atau sebab lain.

Salah satu solusi yang biasanya ditawarkan pihak penjual adalah dengan menjalin kesepakatan jual beli sistem indent. Artinya, pihak pembeli mencatatkan dirinya dalam waiting list pembeli barang jika telah ada di kemudian hari.

Kesepakatan tersebut mengharuskan pihak pembeli menyerahkan sejumlah uang sebagai tanda jadi sekaligus diposisikan sebagai Down Payment (DP). Ketika barang yang dimaksud telah tiba lalu keduanya melanjutkan transaksi maka pembeli tinggal melunasi sisa harga barang yang tersisa.

Baca Juga: Tidak Usah Ragu, Berdagang dengan Cara Dropshpping Boleh dan Keuntungannya Halal Menurut Syariat

Secara umum, jual beli sistem indent tidak terlalu jauh perbedaannya jika tidak dikatakan sama saja dengan sistem pre order atau biasa disingkat PO.  Yaitu sistem pembelian barang dengan memesan dan membayar terlebih dahulu sebelum produksi dimulai, dengan tenggang waktu tunggu (estimasi/perkiraan) sampai barang tersedia.

Perbedaannya bisa saja pada pembayaran harga barang. Dimana umumnya, dalam sistem pre order, si pembeli membayar harga barang secara keseluruhan (walaupun juga tidak selamanya).

Menurut Sa’d al-Khatslan dalam bukunya Fiqhu al-Muamalat al-Maliyah al-Muashirah, pre order (indent) adalah transaksi atas satu objek yang belum ada namun bisa diserahkan di kemudian hari.

Baca Juga: Ini 6 Keutamaan Menjalin Ukhuwah Islamiyah yang Disebutkan Ayat Maupun Hadis

Sebagai contoh, perusahan A menawarkan satu jenis barang yang masih di luar negeri kepada konsumen B. Ketika konsumen B setuju, perusahan A melakukan pembelian barang tersebut dan menyerahkannya kepada konsumen B.

Sepintas, transaksi di atas bisa dianggap melanggar syariat. Sebab transaksi dilangsungkan atas objek yang belum atau tidak ada. Seperti yang diingatkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Hakim bin Hizam ra. Diriwayatkan Abu Dawud bahwsanya Hakim bin Hizam bertanya kepada Rasulullah:

Halaman:

Editor: Supriadi Yosup Boni

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pelaku Dosa, Sebabkan Krisis Ekonomi

Senin, 7 Maret 2022 | 19:40 WIB

Istighfar, Wirid Harian Pelaku Usaha

Senin, 7 Maret 2022 | 17:40 WIB

Miskin atau Kaya, Mulia Mana?

Senin, 7 Maret 2022 | 15:40 WIB

Rasulullah Pinta Hidup Miskin, Betulkah?

Senin, 7 Maret 2022 | 13:40 WIB

Aktualisasi Sabar dalam Dunia Usaha.

Senin, 7 Maret 2022 | 11:40 WIB

Zuhud dalam Persfektif Ekonomi Islam

Senin, 7 Maret 2022 | 09:40 WIB

Biaya Tarik Tunai Pakai Kartu Kredit, Haramkah?

Senin, 7 Maret 2022 | 07:40 WIB

Tarik Tunai Pakai Kartu Kredit, Bolehkah?

Senin, 7 Maret 2022 | 05:40 WIB

Kuwalitas Tawakkal Tentukan Hasil

Jumat, 4 Maret 2022 | 09:40 WIB

Tawakkal Tuntut Kerja Keras

Jumat, 4 Maret 2022 | 07:40 WIB

Al-Wara’, Sifat Wajib Pebisnis Muslim

Kamis, 3 Maret 2022 | 19:40 WIB

Anjuran Pilih Mudharat Paling Ringan

Kamis, 3 Maret 2022 | 15:40 WIB

Boleh Tarik Tunai Di Mesin ATM Bank Lain.

Kamis, 3 Maret 2022 | 11:40 WIB

Kenali Bisnis Skema Ponzi

Rabu, 2 Maret 2022 | 21:40 WIB

Persaingan Usaha, Rahmat Terindah dari Allah

Rabu, 2 Maret 2022 | 13:40 WIB

Syukuri Persaingan Usaha

Rabu, 2 Maret 2022 | 11:40 WIB

Larangan Menjual dengan Dua Harga, Benarkah?

Rabu, 2 Maret 2022 | 09:40 WIB

Polemik Menjual dengan Dua Harga

Rabu, 2 Maret 2022 | 07:40 WIB
X